We Stand for Wildlife℠

Basisdata Perikanan


What We Do?

Indonesia memiliki sumberdaya perikanan dengan keanekaragaman spesies yang tinggi, dimana sumberdaya tersebut dimanfaatkan dengan alat penangkapan ikan yang beraneka ragam (multi-gear). Kondisi tersebut memerlukan suatu pengelolaan yang holistik. Untuk itu, diperlukan informasi berupa data perikanan yang akurat dan komprehensif.

Data yang dikumpulkan dapat memberikan informasi tentang kondisi stok yang ada, sehingga dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan untuk pengelolaan perikanan. Metode pengkajian stok berbasis panjang (length-based stock assessment) adalah salah satu dari sejumlah metode pengkajian stok ‘data-poor’ yang ada. Dalam analisis length-based stock assessment, parameter-parameter yang dapat dianalisis adalah parameter biologi yang mencakup parameter pertumbuhan, panjang rata-rata ikan (Ḹ), panjang optimal (Lopt), panjang pertama kali dewasa (Lm). Selain itu, data berkala mengenai pola pemanfaatan perikanan berupa data produksi, jumlah armada, jumlah trip, dan alat penangkapan ikan juga merupakan informasi yang penting dalam pengelolaan perikanan.

Informasi – informasi tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi pengelolaan perikanan yang diterapkan. Data hasil tangkapan dan upaya penangkapan dapat menginformasikan tentang dinamika upaya penangkapan. Selain itu, berdasarkan analisis hasil tangkapan dan upaya penangkapan dapat diestimasi pula status stok ikan yang bisa dimanfaatkan.

 

Saat ini kami menyediakan dua basisdata perikanan yaitu basisdata perikanan kerapu dan kakap serta basisdata perikanan hiu dan pari.

Contact Us

WCS-Indonesia Program
Address: Jalan Tampomas Ujung No. 35, Babakan,
Bogor Tengah - Bogor 16151
P:62-251-8342135/8306029; Fax: 62-251-8357347
E: wcsindonesia@wcs.org

Basisdata Perikanan Kerapu dan Kakap NTB

Perikanan kerapu dan kakap yang masing-masing merupakan kelompok ikan dari keluarga Epinephelidae dan Lutjanidae merupakan salah satu perikanan penting di Nusa Tenggara Barat. Beberapa species dari dua keluarga ikan ini merupakan primadona nelayan karena merupakan ikan kualitas ekspor sehingga harganya sangat mahal. Selain penting secara ekonomi, kedua keluarga ikan ini juga penting secara ekologi, karena berfungsi sebagai salah satu top-predator pada rantai makanan yang dapat mempengaruhi komposisi ikan karang pada wilayah tertentu. Melihat pentingnya fungsi dari keluarga tersebut secara ekonomi dan ekologi maka dirasa perlu untuk melakukan pengelolaan terhadap perikanan kerapu dan kakap.

Basisdata Perikanan Kerapu dan Kakap Maluku Utara

Perikanan karang adalah komoditas perikanan penting di Indonesia dengan nilai ekonomis yang tinggi dan untuk ikan karang dari jenis kerapu dan kakap memiliki fungsi ekologis yang penting sebagai predator, sehingga berperan dalam mengelola komposisi ikan pada tingkat trofik dibawahnya. Di Indonesia ikan kelompok ikan ini pada umumnya ditangkap oleh nelayan skala kecil atau artisanal. Salah satu wilayah Indonesia yang mempunyai potensi perikanan karang yang tinggi adalah Maluku Utara. Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. 18 Tahun 2014 laut Maluku Utara ditetapkan sebagai bagian dari Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 715 bersama dengan Teluk Tomini, Laut Halmahera, Laut Seram, dan Teluk Berau.

Basisdata Hiu dan Pari

Indonesia merupakan salah satu negara dengan produksi hiu terbesar di dunia, dimana sentra-sentra perikanan hiu di Indonesia terdapat di Aceh, Sukabumi, Cilacap, Muncar, Tanjung Luar, Nusa Tenggara Timur.

Upaya pengumpulan data perikanan hiu dan pari yang berkesinambungan saat ini mulai dilakukan salah satunya di Pelabuhan Tanjung Luar, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Data yang dikumpulkan meliputi data sumberdaya seperti panjang ikan, pola pemanfaatan hiu dan pari seperti data produksi, armada penangkapan dan alat tangkapan. Data-data tersebut dapat menginformasikan tentang dinamika upaya penangkapan, status stok atau status terkini (present status) sumberdaya perikanan hiu dan pari di Indonesia.